FILM-film fiksi buatan Hollywood banyak yang bercerita tentang perjalanan seorang tokoh ke masa lampau. Dengan menggunakan mesin waktu, seorang tokoh bisa pergi ke masa ratusan atau ribuan tahun yang lalu. Tetapi, di Kabupaten Lahat dan Pagaralam, Sumatera Selatan (Sumsel), tak perlu mesin waktu untuk kembali ke masa lampau.
ANDA bisa menikmati suasana ribuan tahun lalu, berupa batu-batu besar yang banyak bertebaran di Bumi Pasemah. Pasemah adalah sebutan untuk kawasan Lahat, termasuk Pagaralam. Pagaralam saat ini menjadi daerah otonomi tersendiri.
Di tempat ini banyak ditemukan peninggalan masa lampau, tradisi megalit atau tradisi batu besar. Banyaknya peninggalan yang tersebar di hampir semua kecamatan di Bumi Pasemah Lahat dan Pagaralam, membuat suasananya begitu kental dengan nuansa zaman batu.
Selain berbagai peninggalan tradisi megalit yang banyak tersebar di sejumlah desa, suasana pedesaan dengan kebun kopi, rumah panggung, lembah Sungai Lematang dengan beberapa tebing tegak, dan jembatan gantung sederhana, semakin menjadikan suasana masa lampau yang sering digambarkan dalam film.
Pahatan paling terkenal adalah pahatan batu yang disebut Batu Gajah. Pahatan pada batu besar (monolit) ini berasal dari Kotaraya Lembak, Kecamatan Jarai, Kabupaten Lahat, Sumsel. Batu relief ini disebut Batu Gajah karena ada pahatan berbentuk gajah pada batu tersebut.
Batu Gajah berasal kawasan dekat Danau Bauty, tidak jauh dari kompleks Kubur Bilik Batu. Temuan Batu Gajah ini penting sebagai penentu umur dari berbagai temuan megalit di Pasemah yang diperkirakan berawal dari masa sebelum Masehi hingga awal-awal Masehi.
Batu Gajah sekarang menjadi koleksi Museum Balaputeradewa di Palembang. Relief di batu ini berupa pahatan yang secara nyata berbentuk gajah, babi bertaring panjang, dan dua tokoh manusia.
"PAHATAN-pahatan tradisi megalit di Lahat itu bersifat dinamis. Tidak seperti arca-arca lain yang biasanya diam, arca-arca di Lahat digambarkan sedang melakukan gerakan yang dinamis, seperti ibu menggendong anak, manusia berkelahi dengan hewan, atau manusia sedang mengendarai hewan," kata Retno Purwanti, peneliti senior Balai Arkeologi Palembang.
Salah satu desa di Lahat yang menyimpan peninggalan tradisi megalit adalah Desa Karangdalam, Pulau Pinang, yaitu berupa sebuah menhir atau batu tegak berhias. Batu ini sekarang berada di halaman rumah salah seorang penduduk.
Hiasan pada menhir ini berupa pola garis-garis lengkung dan lubang-lubang kecil di permukaannya. Selain itu, terdapat pola-pola hias berbentuk segi tiga sama kaki dengan dilengkapi garis-garis tegak.
Menurut Retno Purwanti, gambar-gambar itu merupakan stilir dari bentuk kemaluan wanita dan mempunyai fungsi sebagai simbol kesuburan. "Lambang kesuburan biasa ditemukan pada masyarakat dengan budaya agraris," katanya.
Sementara di Desa Tinggihari, Kecamatan Pulau Pinang, terdapat batu berupa tokoh manusia yang dipahatkan sedang mengendarai kerbau dan tangan kirinya memegang seorang manusia yang lebih kecil. Tokoh ini memakai topi dan di lengannya terdapat gelang.
Selain itu, juga ada menhir berukir yang dipahat dengan rapi, menggambarkan seorang tokoh yang mendukung anak kecil di bahunya dan menginjak tubuh manusia. Pahatan ini sekarang sudah aus dan pecah-pecah karena usia.
Di situs Tinggihari juga ada sebuah patung berupa seorang manusia yang sedang menunggang gajah. Terdapat tonjolan di atas kepalanya seperti sebuah penutup kepala.
"Kami menyebutnya patung imam," kata Mahori, seorang penduduk Tinggihari. Penduduk di sekitar situs menyebut sejumlah arca di situs dengan nama "patung imam".
Umumnya wajah arca-arca manusia di Tinggihari digambarkan berupa manusia kekar, posisi kepala agak maju. Wajahnya dipahatkan dengan bentuk wajah keras.
Hidung pesek, mata bulat, dan mulut lebar. Selain itu, biasanya arca-arca ini memakai gelang di tangan. "Kata orangtua kami, sebagian arca-arca itu dulunya untuk memuja arwah nenek moyang kami," ujar Mahori.
Situs Tinggihari ini terdapat di sebuah bukit dengan lereng-lereng yang penuh dengan kebun kopi. Dari kawasan ini bisa dilihat bentang alam sekitar dan di kejauhan bisa dilihat puncak Gunung Dempo yang menjulang tinggi.
Untuk mencapai lokasi ini, dari Kota Lahat bisa ditempuh dengan mobil atau motor. Jalan beraspal dan mendaki di beberapa tempat sudah rusak.
DI Kecamatan Pagaralam ditemukan berbagai lukisan di dinding batu, selain arca-arca batu besar. Lukisan kubur batu di Tegurwangi, Pagaralam, menggambarkan binatang yang lidahnya terjulur dengan mata berbentuk bulat. Selain itu juga ditemukan lukisan tokoh wanita dengan gambar payudara yang menonjol.
Lukisan tersebut sudah berwarna, di antaranya warna merah, putih, kuning, dan hitam.
Di Desa Tegurwangi Lama ada pahatan pada batu yang disebut oleh penduduk sekitar sebagai Batu Selayar. Pahatan di batu ini berupa tokoh manusia dengan badan yang digambarkan tegap dengan bagian-bagian tubuh yang serba besar. "Sebagian pahatan mungkin merupakan simbol-simbol kosmik. Simbol- simbol pertemuan antara dunia atas dengan dunia bawah," kata Retno.
"Tempat ini hanya ramai kalau musim panen kopi," kata Syahrial, petani kopi di Tinggihari. Sebagai tempat wisata yang potensial untuk dikembangkan, situs-situs megalit ini memang belum digarap secara baik oleh Pemerintah Daerah Lahat. Tangan-tangan jahil juga menjadi "musuh" arca-arca tersebut, seperti goresan dan coretan di sejumlah arca.
Selain sebagai obyek wisata sejarah dan budaya, peninggalan tradisi megalit ini juga menjadi obyek penelitian sejumlah ilmuwan dari dalam dan luar negeri. "Banyak juga mahasiswa yang meneliti untuk skripsi," ujar Retno.
Ke luar dari situs-situs megalitik di Bumi Pasemah seakan ke luar dari mesin waktu sehabis menjelajahi masa lampau. Akan terasa suasana seolah-olah baru kembali dari perjalanan ke masa lampau. Saat kembali ke hotel yang berada di Kota Lahat atau Pagaralam, suasana modern abad ke-21 pun kembali terasa. (B04)
============================
(sumber: teropong, kompas, Sabtu, 07 Juni 2003)